Dunia bisnis saat ini tengah menghadapi tantangan ekonomi global yang sangat dinamis, ditandai dengan fluktuasi nilai tukar mata uang yang berdampak signifikan terhadap stabilitas biaya operasional. Bagi para pelaku usaha yang banyak bertransaksi menggunakan dolar, ketidakpastian tersebut sering kali menjadi ancaman serius terhadap margin keuntungan dan keberlangsungan usaha.
Paradigma manajemen konvensional umumnya masih berfokus pada perlindungan aset finansial dan pencapaian profit semata, sejalan dengan pandangan materialistik yang mengidentifikasi kesejahteraan hanya melalui peningkatan kekayaan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orientasi tunggal pada aspek material belum tentu mampu menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan hidup yang berkelanjutan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: dapatkah bisnis tetap memberikan manfaat dan keberkahan di tengah krisis ekonomi global?
Dalam perspektif Islam, ketahanan bisnis tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan keuntungan finansial, tetapi juga dari kemampuannya mewujudkan falāh, yaitu kesejahteraan yang menyeluruh dengan menyeimbangkan aspek material dan spiritual. Berangkat dari pemikiran tersebut, Prof. Dr. Achmad Firdaus mengembangkan konsep Maslahah Performa (MaP) sebagai sistem manajemen kinerja yang berlandaskan kemaslahatan. Pendekatan ini mentransformasikan nilai-nilai keimanan, keadilan, dan maqāṣid al-sharī‘ah ke dalam strategi operasional organisasi sehingga mampu menciptakan ketahanan bisnis yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.
1. Konsep – Kesejahteraan Sejati (Falāh) sebagai Kompas Bisnis
Dalam perspektif pembangunan Islam, ketahanan bisnis tidak diukur semata-mata berdasarkan pertumbuhan materi atau peningkatan keuntungan finansial. Tujuan utama yang ingin dicapai adalah falāh, yaitu kesejahteraan yang menyeluruh dan berkelanjutan, yang mencakup aspek material, spiritual, sosial, dan moral bagi seluruh manusia.
Menurut M. Umer Chapra, mengidentifikasi kesejahteraan hanya melalui peningkatan pendapatan merupakan pandangan yang kurang tepat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan hanya mampu meningkatkan kebahagiaan hingga kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Setelah itu, kualitas hidup lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai non-material seperti keadilan, persaudaraan, keamanan, martabat, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Maslahah Performa (MaP) menempatkan kemaslahatan sebagai orientasi utama dalam pengelolaan organisasi. Oleh karena itu, strategi ketahanan bisnis di tengah fluktuasi ekonomi global tidak hanya diarahkan untuk menjaga stabilitas keuangan, tetapi juga memastikan terciptanya keseimbangan antara pencapaian ekonomi, kepatuhan syariah, pengembangan sumber daya manusia, serta kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan guna mewujudkan falāh sebagai tujuan akhir organisasi.
2. Tantangan – Kekayaan sebagai Amanah di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Di tengah fluktuasi ekonomi global dan ketidakpastian nilai tukar mata uang, khususnya bagi perusahaan yang bergantung pada transaksi internasional, perubahan kurs bukan sekadar risiko finansial, tetapi juga menjadi ujian dalam mengelola amanah secara bertanggung jawab. Dalam perspektif Islam, harta (māl) merupakan titipan dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan secara produktif, adil, dan memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pendekatan Maslahah Performa (MaP) memandang bahwa pengelolaan kekayaan tidak hanya berorientasi pada pencapaian laba, tetapi juga pada terciptanya kemaslahatan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, strategi ketahanan bisnis yang hanya berfokus pada profitabilitas jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak sosial, etika, dan keberlanjutan berpotensi menimbulkan ketimpangan ekonomi serta menurunkan kualitas kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Sebaliknya, perusahaan yang mampu mengelola sumber daya secara amanah, menerapkan tata kelola yang adil, dan menjaga keseimbangan antara tujuan ekonomi dan nilai-nilai syariah akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bertahan menghadapi gejolak ekonomi global sekaligus mewujudkan tujuan falāh.
3. Pilar Ketahanan Berbasis Maqāsid al-Sharī‘ah
- Penguatan Nilai Iman (Dīn):
Iman memberikan perspektif jangka panjang, memotivasi pelaku bisnis untuk mengorbankan keuntungan materi sesaat (misalnya dengan menghindari spekulasi valas yang dilarang) demi mencapai kesuksesan abadi di akhirat.
- Integritas Diri (Nafs):
Manusia adalah arsitek dari perkembangan atau kemunduran bisnisnya; perubahan kondisi organisasi harus dimulai dari perubahan kualitas batin dan perilaku individu di dalamnya.
- Kecerdasan Intelektual (‘Aql):
Di tengah kelangkaan sumber daya akibat kenaikan kurs, intelektual harus digunakan untuk menciptakan inovasi teknologi dan efisiensi manajemen yang tetap selaras dengan nilai-nilai moral.
- Keberlanjutan Generasi (Nasl):
Bisnis yang tangguh harus menjamin lingkungan yang sehat dan keamanan ekonomi agar generasi mendatang tidak terbebani oleh utang atau kerusakan sosial yang diciptakan saat ini.
- Distribusi Kekayaan yang Adil (Māl):
Ketahanan bisnis harus memastikan bahwa kekayaan tidak hanya berputar di antara kelompok kaya saja, tetapi juga mampu membuka peluang kerja dan pemenuhan kebutuhan bagi mereka yang terdampak krisis ekonomi.
4. Relevansi – Keadilan sebagai Fondasi Stabilitas
Strategi ketahanan yang paling efektif di tengah krisis adalah penegakan keadilan. Tanpa keadilan, upaya pembangunan apa pun akan berakhir pada ketegangan sosial dan konflik. Bisnis yang mampu memperlakukan seluruh pemangku kepentingannya secara adil dan bermartabat akan membangun kepercayaan dan solidaritas sosial yang kuat, aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar margin keuntungan dolar saat menghadapi badai ekonomi global.
.
5. Penutup
Pendekatan Maslahah Performa (MaP) yang diperkuat dengan visi pembangunan Umer Chapra mengingatkan kita bahwa bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang mampu menyinergikan iman dan intelek. Fluktuasi ekonomi global bukanlah sekadar ancaman, melainkan momentum bagi para pemimpin bisnis untuk membuktikan bahwa mereka dapat menjadi instrumen kesejahteraan sejati. Dengan menjadikan kemaslahatan sebagai indikator kinerja utama, bisnis tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan bertumbuh menjadi berkah bagi alam semesta.
Daftar Pustaka
- Firdaus, A. (2021).
Determination of organisational essential needs as the basis for developing a Maslahah-based performance measurement. ISRA International Journal of Islamic Finance.
https://doi.org/10.1108/IJIF-11-2017-0041 - Firdaus, A., & Ahmad, K. (2023).
Islamic Business and Performance Management: Spirituality Perspective. Routledge.
https://doi.org/10.4324/9781003316688 - Chapra, M. U. (2018).
The Islamic Vision of Development in the Light of Maqāsid Al-Sharī‘ah. Islamic Research and Training Institute. ISBN: 978-9960-32-338-1. Seri: Occasional Paper No. 15.
- Bank Indonesia. (2026).
Informasi Kurs Transaksi BI.
https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/transaksi-bi/default.aspx
Penulis Yani Nuryaningsih (2520105035) Magister Ekonomi Syariah Universitas Tazkia I Dosen Pengampu: Prof. Dr. Achmad Firdaus.

